Sabtu, 19 November 2011

Kutu Loncat Keliling Istana Seoul

Untuk sebuah kota super modern, Seoul ternyata memiliki banyak tempat bersejarah dan tradisional yang terawat baik serta menarik untuk dikunjungi.

Bagi yang baru pertama kali main ke Seoul, mengunjungi istana ini adalah hal yang wajib selain juga mencoba pasar nyaris 24 jam, Dongdaemun. Walau memiliki beberapa kesamaan, banyak hal asyik yang bisa dinikmati selama berkeliling istana-istana ini.

Changdeokgung


Istana ini merupakan salah satu istana termegah yang dibangun oleh para raja dari dinasti Joseon. Changdeokgung terletak di Jongno, daerah pusat turis.

Saat penjajahan Jepang, istana ini hancur sampai yang tersisa hanya tiga puluh persennya. Namun, setelah mengalami beberapa kali restorasi, Changdeokgung masih terlihat sebagai salah satu istana terindah.


Salah satu bagian tercantik dari istana ini adalah Huwon, taman belakang dengan kolam yang di tengahnya terdapat taman tambahan buatan manusia. Di pinggir kolam terdapat paviliun kecil yang kabarnya sering digunakan para putri saat mereka ingin menikmati waktu santai.

Di sekeliling kolam, terlihat berbagai pohon yang akan berubah warna sesuai musimnya. Kebetulan, saya ke sana pada musim gugur, sehingga dedauan berwarna kemerahan memenuhi hamparan taman sementara pohon-pohon terlihat mulai mengering.


Mengelilingi istana ini juga perlu stamina kuat karena lokasinya yang agak berbukit. Taman-taman indah ini terletak di bagian belakang dan agak menurun. Sehingga untuk melihat bagian depan istana, termasuk ruang utama dan ruang lainnya, harus sedikit olah raga.


Seperti juga di istana lain, pada jam-jam tertentu, di depan istana akan dilakukan prosesi pertukaran pengawal. Selain taman yang indah, prosesi ini termasuk salah satu hal yang ditunggu-tunggu para turis.

Gyeongbokgung


Istana ini merupakan yang terbesar di tengah kota Seoul sekaligus merupakan istana tertua peninggalan dinasti Joseon. Di bagian depan istana terdapat halaman luas yang juga menjadi lokasi pemotretan yang keren, Gwanghwamun. Untuk masuk ke istana ini, kita harus membayar 1000 won.


Cara termudah untuk mencapai istana menggunakan kereta bawah tanah jalur tiga atau oranye dan keluar di pintu keluar nomer 5.

Di dalam kompleks istana ini ada dua gedung utama, paviliun Gyeonghoeru dan aula Geunjeongjeon. Yang terakhir ini adalah aula raja mengumpulkan para bawahannya untuk suatu pertemuan penting, sekaligus tempat penahbisan raja baru.


Paviliun Gyeonghoeru menjadi tempat yang paling dikunjungi turis karena dikelilingi oleh kolam teratai. Taman di sekelilingnya menawarkan arsitektur taman yang megah.

Seperti juga Chadeokgung, pada jam-jam tertentu berlangsung prosesi pertukaran penjaga istana. Karena istana ini lebih besar, skala prosesi pertukaran ini pun lebih besar dan meriah.


Yang menarik adalah rombongan penjaga istana ini juga mengelilingi istana sehingga kita tidak perlu mencegat di bagian depan istana.

Berdekatan dengan istana Gyeongbokgung, terdapat Museum National Tradisional Rakyat Korea yang menyimpan sekitar 4000 benda yang mewakili gaya hidup tradisional Korea.

Berhubung saya kurang begitu menikmati museum, saya hanya menikmati museum ini di bagian luarnya yang menurut saya juga cukup asyik, terutama anak-anak kecil yang bermain di patung-patung kecil di depan halaman museum.

Deoksugung


Istana terakhir yang saya kunjungi adalah Deoksugung. Istana ini bisa dibilang yang paling baru dibanding istana-istana sebelumnya. Awalnya, istana ini merupakan tempat tinggal pangeran Wolsan, kakak raja Seongjong, tetapi kemudian dijadikan istana utama bagi raja-raja sesudahnya sampai akhirnya penjajahan Jepang.


Nama Deoksugung berarti istana kebajikan abadi. Nama ini diberikan oleh anak raja Gojong yang merupakan raja terakhir dari dinasti Joseon.



Dibanding dua istana sebelumnya, terus terang istana ini tidak megah dan tidak terlalu banyak hal yang menarik untuk dinikmati. Aula rajanya pun terlihat lebih kecil. Yang menarik adalah masih terdapatnya lonceng besar di sisi kiri istana. Halaman tengahnya juga masih sering digunakan untuk konser musik tradisional korea, seperti pansori.


Di belakang istana Deoksugung ini juga terdapat Museum Seni dengan bangunan arsitek bergaya Eropa. Taman dan jalan setapak menuju museum ini memang manis. Buat yang mencari lokasi tenang untuk berpacaran, istana ini bisa dibilang jadi lokasi paling tepat. Romantis sekali. Sayang, saya melenggang sendiri. Judulnya, gigit jari.

sumber : http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/245-kutu-loncat-keliling-istana-seoul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar